Makam Nyi Ageng Serang

 

Makam Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang adalah pahlawan nasional perempuan, penasehat spiritual Pangeran Diponegoro selama melawan Belanda dalam Perang Jawa (1825 - 1830) yang diberi gelar Pahlawan NasionalPada masa Perang Diponegoro, beliau memimpin Laskar Gula Kelapa wilayah Jawa Tengah dan melakukan long march dari Serang ke barat, menyusuri Sungai Progo kemudian bermarkas di Traju Mas Perbukitan Menoreh. Di bukit ini beliau bersama pasukannya menyusun strategi peperangan hingga wafat pada usia 76 (tahun 1828) dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir dan dimakamkan di sana. 

Makamnya dipugar pada tahun 1983 dengan bentuk joglo. Di depan makam terdapat sebuah monumen yang menerangkan beliau sebagai pahlawan nasional. Terdapat pula makam beberapa prajurit yang telah berjuang bersama beliau. Di bagian tengah terdapat dua bangunan berbentuk joglo. Makam Nyi Ageng Serang, putri beliau, serta para abdi dalem menempati bangunan yang pertama. Sedangkan bangunan yang kedua bersemayam suami beliau yaitu, R.M. Kusuma Wijaya, ibu, dan para keluarga beliau yang lain. Makam Nyi Ageng Serang sangat banyak dikunjungi para peziarah khusunya pada Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, masa liburan sekolah, pada hari-hari besar keagamaan Islam, dan pada hari-hari tertentu. 

Setiap tahun masyarakat Desa Banjarharjo juga mengadakan berbagai pentas seni dan budaya untuk mengenang jasa dan perjuangan Nyi Ageng Serang. Pementasan kesenian biasanya digelar pada setiap bulan Sura (Muharram). yaitu tarian dolalak, kuda lumping, shalawatan, dan pementasan kesenian yang lain untuk mengenang beliau, serta merupakan upaya untuk melestarikan budaya lokal. Gelar budaya itu juga diselingi dengan pameran aneka buah-buahan dan produk makanan yang dihasilkan oleh Desa Banjarharjo.

Biasanya peziarah datang untuk mencari berkah (ngalap berkah), mendoakan mereka yang sudah meninggal dengan kepercayaan mistik masyarakat. Biasanya ramai pada malam Selasa dan Jum’at Kliwon. Juru kunci bisa memberikan informasi yang dibutuhkan peziarah bahkan memandu bagi yang ingin ngalap berkah dengan membawa bunga tujuh rupa, kemenyan, dan kadang-kadang disertai puasa.

Makamnya terletak di atas bukit di Dusun Beku, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo,  ± 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km.